Kontenpositif.com – Dusun Manggung bukan kampung yang kaya fasilitas. Tapi semangat warganya menjadikan keterbatasan sebagai sumber kekuatan. Pada tahun 2018, mereka menghadapi kenyataan pahit: sungai di tengah kampung bau, tercemar, dan memisahkan kehidupan sosial. Anak-anak dilarang bermain di luar. Para lansia menghindari bantaran karena khawatir akan penyakit.
“Kami malu kalau ada tamu berkunjung. Sungai bukan lagi tempat berkumpul, tapi sumber masalah,” kata Pak Ridwan, warga senior yang sudah tinggal di sana sejak 1985.
Kondisi ini memantik keresahan generasi muda. Mereka tak ingin tinggal diam. Dari diskusi kecil di pos ronda hingga obrolan larut malam di warung kopi, lahirlah komunitas Lupatmo—sekelompok relawan yang percaya bahwa inovasi bisa lahir dari barang bekas dan niat tulus.
Langkah pertama mereka sederhana: menebar ikan ke sungai.
“Tujuannya bukan untuk dimakan, tapi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kalau sungai ada makhluk hidup, orang akan lebih segan mencemarinya,” ujar Ayu, relawan muda.
Selain itu, mereka membangun saringan limbah dari drum bekas, menghias bantaran sungai dengan mural edukatif, dan membuka kelas alam untuk anak-anak. Di sinilah perubahan mulai terasa. Dari sungai yang kotor, muncullah ruang belajar, tempat diskusi, dan bahkan ajang kreatif warga.
“Anak-anak sekarang menyebutnya ‘sekolah sungai’. Mereka belajar biologi dari air, seni dari mural, dan gotong royong dari praktik harian,” ungkap Bu Nina, penggerak literasi lokal.
Transformasi ini bukan sekadar visual, melainkan perubahan budaya. Warga mulai saling menegur jika ada yang buang sampah sembarangan—dengan cara santun dan saling mengingatkan. Budaya menjaga bersama menjadi nilai baru yang tak tercatat dalam regulasi, tapi hidup dalam keseharian.
Dusun Manggung kini melangkah lebih jauh. Mereka merancang taman hidroponik dan pojok baca di area bantaran sungai yang sudah ditata.
“Semua dimulai dari sungai. Sekarang kami ingin menanam nilai baru di tiap sudut kampung,” kata Damar, relawan remaja yang ikut mendesain pojok baca.
Transformasi Dusun Manggung bukanlah kisah spektakuler yang viral, melainkan narasi reflektif yang bisa ditiru. Kampung lain dapat memulai dengan langkah kecil: mengenali titik lemah di lingkungan, lalu menjadikannya ladang solusi.
Ajakan Bergerak Bersama
Jika kamu membaca ini dari kota besar, desa terpencil, atau bahkan dari kamar kos—percayalah: ruang untuk berbuat selalu ada. Karena solusi tidak harus selalu spektakuler. Yang penting, ia mampu menghidupkan harapan.
Ingin berbagi kisah transformasi di kampungmu? Kirimkan artikel, dokumentasi, atau cerita reflektifmu ke kontenpositif.com dan jadi bagian dari gerakan perubahan yang autentik dan inspiratif.(*)
