5 Pelajaran dari Gunung Leuser: Cetak Biru Resiliensi di Era Burnout

Pendaki berjalan di jalur pegunungan Gunung Leuser dengan latar hutan tropis dan langit biru, simbol perjalanan reflektif melawan overthinking
Seorang pendaki melintasi jalur pegunungan di Taman Nasional Gunung Leuser, tempat di mana keheningan menjadi terapi dan lanskap menjadi ruang kontemplasi. Dalam artikel ini, perjalanan ke Leuser bukan sekadar ekspedisi alam, melainkan upaya seorang jurnalis untuk menghentikan overthinking dan menyembuhkan luka batin yang tak terlihat. Foto/Haryudi/Kontenpositif.com

Kontenpositif.com – Saya pergi ke Leuser bukan sebagai jurnalis. Saya pergi sebagai jiwa yang kelelahan.
Dua dekade hidup saya habis di balik layar laptop, deadline yang mencengkeram, notifikasi yang terus berdering, dan kabar buruk yang tak pernah berhenti.

Dari luar, orang mungkin melihat karier yang mapan. Namun di dalam, ada kerapuhan yang tak terobati yaitu kecemasan kronis, overthinking yang melumpuhkan, dan rasa kehilangan arah.

Saya tidak mencari berita. Saya mencari reset. Saya butuh ruang di mana gema notifikasi tak lagi jadi hantu. Itulah yang menuntun saya menuju Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), salah satu hutan hujan tropis terakhir di dunia yang masih tegak berdiri.

Leuser, Fakta Sebelum Sunyi

TNGL membentang seluas 830.268 hektare di dua provinsi yakni Aceh dan Sumatera Utara. Di dalamnya, berdiri tiga puncak terkenal:

  • Puncak Leuser (3.145 mdpl)
  • Puncak Loser (3.404 mdpl)
  • Puncak Tanpa Nama (3.455 mdpl)

Leuser adalah rumah lebih dari 130 spesies mamalia, termasuk orangutan Sumatera (Pongo abelii), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), hingga badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Ribuan flora tropis tumbuh di sini, termasuk bunga raksasa Rafflesia arnoldii.

Kantong Semar Hibrida menjelang Puncak Leuser dengan latar belakang Puncak Loser/ Foto: Haryudikontenpositif.com/

Sejak era kolonial Belanda (1934), kawasan ini sudah dilindungi. Pada 1980, ia resmi menjadi taman nasional, dan kini diakui UNESCO sebagai bagian Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra.

Namun Leuser tidak hanya hidup untuk sains. Ribuan masyarakat lokal bergantung pada hasil hutan non-kayu, ekowisata, hingga sumber air. Sayangnya, perambahan dan ekspansi sawit terus mengintai.

Nafas Habis di Tanjakan

Hari ketujuh pendakian menuju Puncak Loser, nafas saya terengah. Tanah berlumpur menahan langkah. Di titik itu saya sadar, bahwa lumpur adalah metafora depresi saya sendiri. Tarikan ke bawah yang membuat setiap pagi begitu berat.

Saya teringat Søren Kierkegaard:

“The greatest hazard of all, losing one’s self, can occur so quietly that it is as if it were nothing at all.”
(The Sickness Unto Death, 1849)

Di Leuser, saya menyadari bahwa selama ini saya nyaris kehilangan diri, bukan lewat peristiwa besar, melainkan lewat rutinitas kecil yang menggerus jiwa.

Baca Juga: Mencari Bahagia di Era Burnout, Antara Sukses dan Sederhana

Dialog dengan Hutan

Di Pos Pantau, seorang guide lokal bernama Nasir menampar saya dengan kalimat sederhana:

“Di sini masalah itu sederhana. Kalau lapar ya makan. Kalau capek ya istirahat. Kami tidak mencari masalah yang tidak ada.”

Ucapan itu menohok. Di kota, kita sibuk menciptakan masalah yang tidak ada, seperti validasi media sosial, FOMO, berita yang belum tentu relevan. Dari Mr. Nasir, saya belajar bahwa sunyi adalah benteng pertahanan mental.

Kesunyian Sebagai Ruang Kebangkitan

Di hutan, kesunyian bukan kehampaan. Ia ruang untuk mendengar suara hati.
Sebagaimana ditulis Carl Gustav Jung:

“Who looks outside, dreams; who looks inside, awakes.”
(Letters, 1973)

Kemudian, penyair sufi Rumi:

“Don’t feel lonely. The entire universe is inside you.”
(The Essential Rumi, 1995)

Dan Ibn Arabi mengingatkan:

“When you lose something, do not lose yourself.”
(Fusûs al-Hikam, abad ke-13)

Kesunyian Leuser mengajarkan: kehilangan hanyalah pintu menuju kebangkitan.

5 Pelajaran Leuser untuk Resiliensi

  1. Terima Ambiguitas, Lawan Overthinking
    Cuaca hutan tak bisa diprediksi. Begitu juga hidup.
  2. Langkah Kecil, Tujuan Besar
    Puncak hanya bisa dicapai dengan ribuan langkah kecil.
  3. Hening Adalah Benteng Mental
    30 menit tanpa gadget terasa seperti terapi.
  4. Nilai Karya, Bukan Validasi
    Udara puncak lebih berharga dari likes.
  5. Tim Adalah Kekuatan, Bukan Ketergantungan
    Meminta bantuan bukan kelemahan, melainkan strategi cerdas.

Dari Hening Hutan ke Perang Siber

Pendakian ini tidak menghapus kecemasan saya. Tapi ia memberi cetak biru resiliensi.
Kini saya tahu bahwa kalau hening bisa jadi benteng, maka kita juga bisa membangun benteng yang sama untuk menghadapi banjir informasi, propaganda digital, hingga ancaman deepfake.

Saksikan mini-dokumenter perjalanan ini di YouTube:
https://www.youtube.com/embed/2K4J4WKGSkk?si=BH-5Acd4LtooX6wk

Leuser bukan sekadar gunung. Ia adalah guru sunyi yang mengajarkan cara kita kembali menemukan diri.

Bagikan:

Apakah artikel ini memberi Anda perspektif baru?

Di KontenPositif, kami menggunakan perhatian Anda untuk hal baik, menyajikan berita solutif yang menginformasi sekaligus menginspirasi. Jika Anda percaya pada misi kami, dukung agar kami bisa menjangkau lebih banyak orang.

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait