Sumud Flotilla: Ketika Aktivis Sipil Dunia Ditahan Israel di Laut Lepas

Armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di pelabuhan, dihiasi bendera Palestina dan peserta aksi solidaritas
Armada Global Sumud Flotilla: Solidaritas Sipil Dunia untuk Gaza

Kontenpositif.com – Di dunia yang semakin bising oleh konflik dan propaganda, ada suara-suara yang memilih untuk tidak berteriak, tapi berlayar. Mereka bukan tentara, bukan diplomat, bukan tokoh negara. Mereka adalah guru, peneliti, ibu rumah tangga, aktivis lingkungan, dan anak muda yang percaya bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas.

Mereka menyebut diri sebagai Global Sumud Flotilla (GSF)—armada sipil yang berlayar menuju Gaza, membawa harapan dalam bentuk paling sederhana: makanan, obat-obatan, dan keberanian.

Armada ini bukan sekadar konvoi. Ia adalah pernyataan. Bahwa dunia belum mati rasa. Bahwa solidaritas masih mungkin. Bahwa Gaza bukan hanya statistik, tapi rumah bagi 2,4 juta jiwa yang berhak hidup dengan martabat.

Pada malam 1 Oktober hingga pagi 3 Oktober 2025, armada GSF dicegat secara ilegal oleh angkatan laut Israel di perairan internasional. Selama 38 jam, komunikasi dibungkam, kapal-kapal disita, dan 462 aktivis dari 45 negara—termasuk Greta Thunberg dan 12 warga Malaysia—diculik dan dibawa ke Israel tanpa persetujuan.

Beberapa mengalami perlakuan merendahkan, disemprot meriam air, dan diproses sebagai “imigran ilegal” tanpa pendamping hukum.

“Kami tidak membawa senjata. Kami membawa suara nurani dunia,” ujar Saif Abukeshek, juru bicara GSF dan aktivis Palestina yang juga seorang ayah dari tiga anak kecil.

Mereka yang Berlayar: Wajah-Wajah Perlawanan Damai

GSF bukan organisasi formal. Ia adalah gerakan lintas negara dan lintas iman. Di dalamnya, ada Kleoniki Alexopoulou, sejarawan ekonomi dari Yunani yang meneliti ketimpangan global.

Ada Yasemin Acar, aktivis Turki-Jerman yang mendirikan Berlin Arrival Support untuk pengungsi Ukraina. Ada Thiago Ávila dari Brasil, yang telah dua dekade menyuarakan keadilan sosial dan lingkungan. Ada Maria Elena Delia, fisikawan asal Italia yang menjadi guru dan relawan perlindungan anak.

Ada Muhammad Nadir Al-Nuri dari Malaysia, pendiri Cinta Gaza Malaysia, yang telah membangun sekolah dan pusat budaya di Gaza sejak 2013.

Ada Hayfa Mansouri, peneliti sosial asal Tunisia yang menggabungkan filsafat dan teknik untuk membangun perubahan akar rumput. Ada Torkia Chaibi, ibu dua anak dan pemimpin petani perempuan Tunisia, yang telah berjuang untuk Palestina sejak 1985.

Mereka bukan hanya aktivis. Mereka adalah penjaga nurani dunia.

Ketika Hukum Internasional Dilanggar

Press release resmi GSF, Sabtu, 4 Oktober 2024 menyebutkan bahwa Israel telah melakukan serangkaian pelanggaran berat terhadap hukum laut, hukum humaniter, dan hak asasi manusia internasional. Di antaranya:

  1. Intersepsi ilegal di laut lepas, melanggar UNCLOS Pasal 19, 88, dan 301.
  2. Penangkapan sewenang-wenang, bertentangan dengan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik Pasal 9.
  3. Pemindahan paksa ke penjara Israel, melanggar Konvensi Jenewa Keempat Pasal 49.
  4. Kekerasan fisik terhadap warga sipil damai, termasuk penggunaan meriam air dan perlakuan merendahkan.
  5. Stigmatisasi dan pencemaran nama baik, dengan pelabelan “teroris” terhadap aktivis damai.
  6. Pemrosesan hukum yang tidak sah, termasuk pemaksaan tanda tangan dan sidang tanpa pengacara.
  7. Serangan drone dan kapal perang terhadap armada sipil, yang dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut Statuta Roma Pasal 8 dan Piagam PBB Pasal 2(4).
  8. Pemblokiran bantuan kemanusiaan, yang menurut San Remo Manual dan Konvensi Jenewa Pasal 23, merupakan pelanggaran berat jika menyebabkan kelaparan warga sipil.

“Blokade Israel bukan sekadar kebijakan. Ia adalah bagian dari mesin genosida,” tulis GSF dalam penilaian hukumnya, merujuk pada temuan Komisi Penyelidikan PBB Agustus 2025 yang menyatakan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina.

Ketika Penahanan Menjadi Panggung Solidaritas

Penahanan para aktivis bukan akhir. Justru menjadi panggung baru bagi solidaritas. Di Istanbul, 137 aktivis dari 12 negara tiba dengan selamat setelah dideportasi. Di Berlin, Roma, dan Barcelona, aksi solidaritas bermunculan. Di media sosial, tagar #SumudFlotilla menjadi ruang digital untuk menyuarakan harapan.

“Kami akan terus berlayar. Dalam bentuk apapun. Di laut, di darat, di pikiran,” tulis GSF dalam pernyataan resminya.

Harapan yang Tidak Bisa Dicegat

Armada GSF mungkin telah dihentikan secara fisik, tapi semangatnya tidak bisa diblokade. Mereka telah membuka jalur baru dalam diplomasi sipil—jalur yang tidak bergantung pada negara, tapi pada nurani manusia.

Di tengah dunia yang sering kali terpolarisasi, GSF mengingatkan kita bahwa solidaritas tidak mengenal paspor. Bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam demonstrasi besar, tapi bisa muncul dalam bentuk kapal kecil yang berlayar menuju harapan.

Ajakan Kontemplatif

Di KontenPositif.com, kami percaya bahwa berita bukan hanya soal peristiwa, tapi soal makna. Armada GSF adalah bukti bahwa dunia masih memiliki ruang untuk keberanian kolektif, untuk cinta lintas batas, dan untuk aksi yang lahir dari refleksi.

Mari kita jaga semangat ini. Mari kita terus membingkai ulang dunia—bukan sebagai tempat konflik, tapi sebagai ruang kemungkinan.

Saksikan dokumentasi dan liputan penuh di globalsumudflotilla.org. Baca juga artikel reflektif lainnya di kontenpositif.com

Bagikan:

Apakah artikel ini memberi Anda perspektif baru?

Di KontenPositif, kami menggunakan perhatian Anda untuk hal baik, menyajikan berita solutif yang menginformasi sekaligus menginspirasi. Jika Anda percaya pada misi kami, dukung agar kami bisa menjangkau lebih banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait