STOP SCROLLING! Benarkah AI Bikin Gen Z Bego?

Ilustrasi wajah Gen Z terdistorsi glitch karena deepfake 550 persen dan malas berpikir
Ilustrasi visualisasi Negativity Bias. Saat otak lelah (pelit kognitif), Gen Z rentan terhadap Deepfake yang naik 550% di tahun 2025. Sumber: KontenPositif.com

Kontenpositif.com – Awal tahun ini, berita “NASA Prediksi Kiamat Internet pada 2025” sempat memicu kepanikan massal di kalangan Gen Z. Bahkan, menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo/Komdigi) hoaks yang berulang ini menyebar cepat di TikTok dan X (Twitter).

Sebetulnya, jika disimak terkait maraknya hoaks, disinformasi, misinformasi hingga deepfake di era digital ini, kiamat internet yang sesungguhnya bukanlah badai matahari, melainkan kiamat kepercayaan.

Generasi Z yang dikenal sebagai kalangan paling digital native, namun ironis, mereka jugalah generasi paling rentan. Terbukti, berdasarkan data resmi dari Komdigi, penggunaan teknologi deepfake naik hingga 550% dan hoaks finansial sangat mudah beredar cepat (Kominfo, 2025). Tentunya hal tersebut menjadi tantangan dan perhatian semua kalangan.

Sebab mereka umumnya sangat mudah termakan hoaks, misinformasi, disinformasi, dan deepfake. Terlebih di era Artificial Intelligence (AI) ini, umumnya mereka “malas” menemukan informasi resmi untuk membedakan mana realitas dan mana manipulasi.

Deepfake Gantikan Hoaks Lama, Ancaman 550 Persen

Ancaman terbesar saat ini bukan lagi sekadar teks tipuan, melainkan video dan audio tiruan yang sempurna. Data Komdigi mencatat kenaikan signifikan (sekitar 550% per laporan Mafindo, 2025) dalam penyalahgunaan Deepfake, terutama untuk memicu adu domba politik atau penipuan finansial.

Serangan ini jauh lebih berbahaya karena memanfaatkan Negativity Bias pada otak generasi Z. Menurut kajian psikologi (Rozin & Royzman, 2001), otak manusia diprogram untuk memproses ancaman (berita buruk, marah, atau panik) dua kali lebih cepat daripada berita baik. Algoritma media sosial memanfaatkan bias ini, mendorong konten yang emosional, termasuk Deepfake, agar lebih cepat viral. Singkatnya: konten yang paling dramatis, itulah yang paling banyak di lihat.

Gen Z ‘Malas Berpikir’, Pelit Kognitif

Mengapa Gen Z, yang ahli digital, justru mudah tertipu? Jawabannya ada pada perilaku berpikir kita.

Teori Cognitive Miser menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya malas dalam berpikir (Fiske & Taylor, 1991). Di era scrolling cepat, Gen Z cenderung menjadi pelit kognitif, dan lebih memilih jalan pintas mental (mengambil kesimpulan cepat) daripada melakukan verifikasi berlapis.

Kemalasan berpikir ini diperparah oleh Information Overload dan Filter Bubble. Volume informasi tak terbatas membuat otak lelah, sementara algoritma hanya menyajikan apa yang mereka suka. Hasilnya, Gen Z tidak lagi melihat fakta, yang ada mereka hanya melihat versi fakta yang ingin dilihatnya, alhasil menumpulkan kemampuan kritisnya.

Kunci Melawan ‘Kiamat Kepercayaan’, Aktifkan 4 Filter Anti-Hoaks

Literasi media bukan tentang tahu cara googling, melainkan tahu cara berpikir. Kami mencoba merangkumnya dalam 4 Filter Anti-Hoaks yang harus diaktifkan setiap kali menerima informasi mengejutkan:

Emotional Check (5 Detik Kritis). Jika sebuah konten memancing atau membuat marah, takut, atau gembira dalam 5 detik, JANGAN KLIK SHARE! Ini adalah upaya mengalahkan Negativity Bias dengan memaksa jeda mental.

The Double Source Test. Cari berita atau data yang sama di dua sumber independen yang kredibel (media arus utama yang diverifikasi Dewan Pers, atau jurnal resmi). Jika hanya ada di satu sumber, anggap itu hoax sampai terbukti sebaliknya.

Reverse Image/Video Search. Khusus untuk Deepfake, gunakan fitur Reverse Image Search (Google Lens, TinEye) untuk memverifikasi keaslian visual. Deepfake sering menggunakan potongan video lama yang diubah konteksnya.

Context vs. Content. Sebelum menyebar atau menelan mentah-mentah, coba kritisi apakah KONTEKS pesan ini valid? (Kapan, di mana, dan siapa yang menyampaikannya?) ketimbang hanya fokus pada KONTEN (apa yang dikatakan).

Penting diketahui, generasi Z memiliki akses informasi terbanyak, tetapi juga yang paling rentan terhadap disinformasi, misinformasi, dan deepfake. Bahkan, AI telah membuat hoaks/deepfake lebih canggih.

Literasi media di era ini bukan hanya kemampuan membaca, melainkan kemampuan memfilter dan memverifikasi. Jadilah agen Integritas Informasi. Aktifkan 4 Filter Anti-Hoaks ini, dan jangan biarkan AI membuat kalian menjadi “pelit kognitif” yang gagal kritis.

Bagikan:

Apakah artikel ini memberi Anda perspektif baru?

Di KontenPositif, kami menggunakan perhatian Anda untuk hal baik, menyajikan berita solutif yang menginformasi sekaligus menginspirasi. Jika Anda percaya pada misi kami, dukung agar kami bisa menjangkau lebih banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait