Krisis Lingkungan Indonesia 2025: Deforestasi dan Iklim

Jembatan gantung di atas hutan tropis Indonesia, simbol ekosistem yang rentan terhadap deforestasi dan krisis iklim
Jembatan gantung Situ Gunung di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sukabumi Jawa Barat membentang di atas hutan tropis yang lebat, dengan pengunjung berjalan di atasnya. Visual ini menjadi simbol lanskap alam Indonesia yang kaya namun rentan, menggambarkan urgensi menjaga ekosistem dari ancaman deforestasi dan dampak perubahan iklim. Foto/Ist

Kontenpositif.com – Indonesia tengah menghadapi beragam tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Dari deforestasi akibat proyek food estate, ledakan sampah plastik, hingga krisis iklim yang mengancam masa depan ekosistem dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.

Kerusakan Lingkungan dan Deforestasi Food Estate: Terbesar di Dunia

Pada tahun 2024, perluasan kawasan food estate di Kalimantan dan Sumatra menyebabkan deforestasi seluas lebih dari 120.000 hektare. Laporan dari Global Forest Watch menyebutkan bahwa Indonesia telah menyalip Brasil sebagai negara dengan kehilangan hutan tropis terbesar di semester awal 2025. Angka ini mencerminkan dampak serius dari kebijakan agrikultur skala besar yang belum sepenuhnya mempertimbangkan keberlanjutan ekologis.

Krisis Sampah Plastik: Lautan dan Sungai Jadi Korban

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan lebih dari 6 juta ton sampah plastik sepanjang tahun 2024. Sebagian besar dari limbah ini berakhir di laut dan sungai, merusak ekosistem perairan dan membahayakan sumber pangan laut. Dalam peringkat global, Indonesia kini berada di posisi kedua setelah Tiongkok dalam hal pencemaran plastik laut—sebuah peringatan keras bagi pengelolaan sampah nasional.

Perubahan Iklim: Dampaknya Semakin Nyata

Fenomena El Niño dan perubahan iklim global telah menyebabkan lonjakan suhu, kekeringan berkepanjangan, serta peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa suhu di kota-kota besar Indonesia meningkat hingga 1,8°C. Dampaknya terasa langsung pada sektor kesehatan, pertanian, dan infrastruktur, memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini.

Tantangan lingkungan ini tidak bisa lagi ditunda. Indonesia membutuhkan aksi kolektif lintas sektor—pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha—untuk menyelamatkan lingkungan dan mewariskan bumi yang sehat bagi generasi mendatang. Langkah nyata dan kolaboratif menjadi kunci untuk membalikkan arah krisis menuju keberlanjutan.(*)

Bagikan:

Apakah artikel ini memberi Anda perspektif baru?

Di KontenPositif, kami menggunakan perhatian Anda untuk hal baik, menyajikan berita solutif yang menginformasi sekaligus menginspirasi. Jika Anda percaya pada misi kami, dukung agar kami bisa menjangkau lebih banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait