Kisah Pemuda Ubah Sungai Kumuh Jadi Taman Belajar

Jembatan warna-warni di atas sungai kecil dengan anak-anak dan pendamping, simbol transformasi lingkungan menjadi ruang belajar komunitas
Jembatan kecil yang dihiasi warna-warni cerah di atas sungai sempit, dengan anak-anak berseragam dan seorang dewasa yang tampak membimbing. Visual ini menjadi simbol perubahan sosial yang digerakkan oleh pemuda Dusun Manggung—mengubah sungai yang dulu kumuh menjadi ruang belajar dan refleksi bagi generasi muda. Foto/Ist

Kontenpositif.com – Dulu warga menganggap sungai kecil ini tempat sampah. Kini, mereka mengubahnya jadi ruang belajar anak-anak Dusun Manggung. Gerakan pemuda setempat memantik perubahan sosial yang menyentuh banyak pihak.

Awal Gerakan Pemuda Peduli Sungai

Limbah rumah tangga dulunya memenuhi sungai. Kini, sekitar 3.000 ikan Tombro dan Nila berenang di dalamnya. Warga muda menebarkan ikan bukan sekadar untuk estetika, tapi strategi sosial agar warga enggan mencemari sungai.

“Kami mulai berpikir, bagaimana caranya agar warga tidak lagi membuang sampah ke kalen,” ujar Arif Setiawan, inisiator sekaligus pengelola Lupatmo, mengenang awal mula kelompok lokal ini pada September 2017.

Baca Juga: Kisah Kampung Kreatif: Sungai Jadi Solusi

Strategi Sosial Pemuda Dusun Manggung

Generasi muda Manggung juga membangun saringan irigasi dan melukis warna-warni di sepanjang aliran sungai, menciptakan suasana yang mengundang anak-anak untuk bermain dan belajar.

“Anak-anak TK dan SD datang ke sini, memberi makan ikan, bermain air, dan belajar tentang kebersihan,” tambah Arif.

Dampak yang Terlihat

Warga Dusun Manggung mulai melakukan perubahan lewat obrolan sehari-hari. Komitmen mereka berkembang menjadi tindakan nyata yang mengubah kampung. Nur Tria Wijayanti menyaksikan sendiri dampaknya setiap hari.

“Kini masyarakat lebih peduli. Bahkan, hampir semua warga tidak lagi membuang sampah ke sungai,” katanya.

Aktivitas memancing, yang digemari banyak warga Indonesia, kini masuk dalam program bulanan Lupatmo. Program ini tak hanya melatih fokus dan kesabaran, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga lewat kebersamaan.

Tahun-tahun sebelumnya, warga hanya mengadakan acara memancing saat malam pergantian tahun. Namun kini, berkat dukungan Lurah Desa Wukirsari dan warga, komunitas merancang program bulanan ini agar terus berjalan dan berkembang sebagai bagian dari perluasan Kalen Edukasi Lupatmo.

Komunitas tak sekadar menghidupkan sungai, melalui kegiatan ini warga membuktikan bahwa kampung mampu menjadi ruang reflektif dan penuh makna.

Harapan ke Depan

Lupatmo telah menjadi simbol harapan, tak lagi sekadar taman edukatif. Rencana ke depan mencakup taman hidroponik dan taman baca. Komunitas muda Manggung membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari sungai kecil, dari ide sederhana, dan dari tangan-tangan yang percaya pada masa depan.

“Harapannya, Dusun Manggung bisa jadi kampung edukasi yang ramah anak dan percontohan dari hulu ke hilir,” tutup Arif dengan semangat.

Gerakan kecil ini membuka ruang besar untuk perubahan. Kini, semangat Dusun Manggung menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain.(*)

Bagikan:

Apakah artikel ini memberi Anda perspektif baru?

Di KontenPositif, kami menggunakan perhatian Anda untuk hal baik, menyajikan berita solutif yang menginformasi sekaligus menginspirasi. Jika Anda percaya pada misi kami, dukung agar kami bisa menjangkau lebih banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait