kontenpositif.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengajak perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi dalam merevitalisasi pendidikan di Indonesia. Dalam pidatonya di acara Dies Natalis ke-64 Universitas Negeri Makassar (UNM), ia menekankan bahwa kampus memiliki peran strategis untuk mencetak guru-guru berkualitas dan mendukung berbagai program prioritas Kemendikdasmen.
Peran Strategis Kampus dalam Mencetak Generasi Unggul
Menteri Mu’ti menegaskan bahwa kampus seperti UNM harus menjadi “ruang lahirnya guru-guru cerdas, ilmuwan berintegritas, dan cendekiawan yang bersahaja”. Kolaborasi dengan perguruan tinggi tak hanya penting untuk mencetak tenaga pendidik yang kompeten, tetapi juga untuk membenahi kualitas pembelajaran lewat dukungan fasilitas dan program yang lebih baik.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Mu’ti juga menyoroti penguatan layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan wajib belajar 13 tahun, yang akan diwujudkan melalui kerja sama lintas kementerian untuk memastikan setiap desa memiliki akses terhadap PAUD.
Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Digital Nasional, Merajut Konektivitas dan Pemerataan Ekonomi
Fokus pada Kualitas Guru dan Kurikulum Digital

Revitalisasi pendidikan tidak hanya menyentuh aspek fisik sekolah, tetapi juga kualitas sumber daya manusia, terutama guru. Ribuan guru honorer akan mulai menerima bantuan per bulan yang ditransfer langsung, yang merupakan bagian dari program penguatan kapasitas guru. Para guru juga akan dibekali pelatihan terkini, mulai dari kecerdasan buatan (AI), berpikir komputasional, literasi digital, hingga konseling. “Di sinilah kampus memainkan peran penting dalam membekali guru masa depan,” ucap Menteri Mu’ti.
Selain kompetensi digital, keterampilan nonteknis seperti kreativitas, kolaborasi, kepemimpinan, dan kecakapan berwarganegara juga menjadi fokus utama dalam menyiapkan generasi Indonesia masa depan.
Mengintegrasikan AI: Alat Bantu Pendidikan, Bukan Tren
Di tempat berbeda, dalam Seminar Nasional di Universitas Muhammadiyah Makassar, Menteri Mu’ti kembali menegaskan bahwa kecerdasan buatan harus dipahami sebagai alat bantu pendidikan, bukan sekadar tren. Pandangan ini didukung oleh pengalaman para pelajar yang hadir, seperti Kaila Aqilah dan Nur Athiyah Mufidah, yang mengaku sangat terbantu oleh AI dalam proses belajar. “Kami senang, karena kita memang harus maju dan belajar teknologi,” ujar mereka dengan optimis.
Di akhir kunjungannya, Menteri Mu’ti juga mengajak perguruan tinggi untuk mendampingi sekolah kejuruan (SMK) berbasis keunggulan lokal, agar lulusannya tidak hanya siap kerja, tetapi mampu menciptakan nilai tambah bagi daerahnya.(*)
