Kontenpositif.com – Di tengah pesatnya laju urbanisasi, ruang terbuka hijau (RTH) telah bertransformasi dari sekadar area rekreasi menjadi elemen krusial bagi keberlanjutan kota dan kesejahteraan warganya.
Data dari laporan terkini menunjukkan bahwa investasi dalam RTH tidak hanya memperindah kota, tetapi juga memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.
Artikel ini mengupas tuntas mengapa RTH menjadi kunci utama dalam membangun kota yang sehat, tangguh, dan produktif di masa depan.
Manfaat Ruang Terbuka Hijau: Dari Udara Bersih hingga Kesejahteraan Mental
Keberadaan RTH berperan vital dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan. Tumbuhan dan pepohonan bertindak sebagai filter alami, menyerap polutan udara seperti nitrogen dioksida dan partikel halus (PM2.5) yang berbahaya.
Sebuah studi ilmiah yang diterbitkan pada awal tahun 2024 menyoroti bahwa peningkatan tutupan pohon sebesar 10% di area perkotaan dapat menurunkan suhu permukaan hingga 1–2°C.
Efek ini membantu memerangi fenomena “urban heat island,” menjadikan kota lebih nyaman dan hemat energi.
Dari sisi kesehatan, RTH terbukti menjadi penangkal stres alami. Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2024 menyatakan bahwa akses mudah ke taman, kebun kota, atau area hijau terbukti mengurangi risiko depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya.
Interaksi dengan alam, bahkan dalam waktu singkat, dapat menurunkan kadar hormon stres kortisol dan meningkatkan suasana hati secara signifikan.
Dampak Ekonomi dan Sosial: Meningkatkan Nilai Properti dan Kohesi Sosial
Selain manfaat ekologis dan kesehatan, RTH juga membawa dampak positif yang besar pada sektor ekonomi dan sosial.
Analisis ekonomi properti dari lembaga riset global tahun 2024 menunjukkan bahwa rumah atau apartemen yang berlokasi dekat dengan taman atau area hijau memiliki nilai jual dan sewa yang 5–10% lebih tinggi.
Ini membuktikan bahwa RTH adalah aset berharga yang meningkatkan daya tarik kawasan.
Secara sosial, RTH berfungsi sebagai ruang inklusif yang menyatukan beragam lapisan masyarakat. Di sini, warga dari berbagai usia, latar belakang, dan status sosial dapat berinteraksi, berolahraga, atau sekadar bersantai.
Interaksi ini memperkuat kohesi sosial dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap lingkungan sekitar. Pembangunan taman kota yang partisipatif, di mana warga dilibatkan dalam perencanaan, terbukti meningkatkan rasa bangga dan kepedulian terhadap fasilitas publik.
Studi Kasus dan Inisiatif Terkini di Tahun 2024–2025
Banyak kota di seluruh dunia kini berfokus pada RTH sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.
Di Asia, beberapa kota besar telah meluncurkan program “Green City Action Plan” pada tahun 2024, yang menargetkan penambahan RTH minimal 2 meter persegi per kapita dalam lima tahun ke depan.
Di Indonesia, inisiatif “Urban Farming” di lahan-lahan kosong dan program penanaman pohon di sepanjang jalur pejalan kaki mulai masif digalakkan, didukung oleh pemerintah dan komunitas lokal.
Hal ini merupakan bukti nyata komitmen kolektif dalam mewujudkan kota yang lebih hijau.
Membangun kota yang layak huni bukan lagi sekadar membangun infrastruktur fisik, melainkan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan dengan alam.
Ruang terbuka hijau adalah investasi jangka panjang yang memberikan dividen berupa udara yang lebih bersih, warga yang lebih sehat, ekonomi yang lebih stabil, dan masyarakat yang lebih erat.
Dengan terus mendukung dan mengembangkan RTH, kita dapat menciptakan masa depan kota yang tidak hanya maju, tetapi juga manusiawi dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.(*)
