Kontenpositif.com – Ancaman siber hari ini tidak lagi terbatas pada manipulasi wajah atau suara. Format media sosial seperti Stories dan Live terbukti menjadi bentuk deepfake emosional yang paling merusak daya tahan mental generasi muda. Jika artikel kami sebelumnya membahas bahaya doomscrolling, kali ini kita soroti ancaman yang lebih halus yaitu ilusi hidup sempurna 24 jam.
Stories menyajikan potongan hidup yang tampak mudah, indah, dan instan. Pergeseran ini berdampak langsung pada resiliensi psikologis Gen Z dan Alpha. Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat bahwa 40% Gen Z mengalami stres dan kecemasan tinggi akibat tekanan sosial digital. Sementara Rollins School of Public Health menegaskan bahwa lonjakan gangguan mental remaja dimulai sejak 2010, seiring dengan meningkatnya konsumsi media sosial berbasis visual.
Attention Span dan Sikap Menghakimi

Fenomena “continuous partial attention”—di mana otak terus berpindah fokus tanpa mendalami satu pun informasi—telah dikaitkan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis. Kondisi ini menciptakan Gen Z yang merasa paling tahu hanya dari permukaan, yang memicu sikap menghakimi dangkal dan overconfidence sosial.
Selain itu, stories juga menyembunyikan perjuangan dan hanya menampilkan hasil akhir. Ini menciptakan ilusi bahwa hidup harus selalu mudah dan instan. Jika kita tidak melawan ilusi ini, kita akan terus melatih diri untuk gampang menyerah saat menghadapi kesulitan nyata.
Resiliensi Mental Digital

Strategi ini adalah Resiliensi Mental Digital, sebuah doktrin yang harus kita tanamkan sejak dini. Berikut empat taktik harian yang bisa diterapkan oleh Gen Z dan orang tua, pertama yaitu mode audit intelektual dengan cara jangan percaya begitu saja. Misalkan ajukan pertanyaan skeptis: “Apa bukti data atau fakta di balik klaim kebahagiaan/kesuksesan ini?”
Selanjutnya taktik yang kedua adalah filter nilai inti pribadi. Tanyakan sebelum terpengaruh: “Apakah ini sejalan dengan tujuan hidup saya?” “Apakah ini membuat saya lebih baik hari ini?”
Kemudian taktik yang ketiga adalah deklarasi proses (Anti-Menyerah). Lawan ilusi sempurna dengan membagikan stories dan live tentang pentingnya sebuah proses. Misalkan isi dengan kata-kata atau narasi visual yang menggambarkan sebuah proses belajar, proses gagal, proses stuck—bukan hanya hasil akhir.
Dan taktik yang terakhir atau yang keempat yaitu protokol gencatan senjata visual. Kita harus bisa menentukan atau memutuskan 1–2 jam per hari tanpa konsumsi Stories dari media sosial. Ganti dengan aktivitas fisik, membaca, atau deep-work.
Dengan demikian, Deepfake terkuat dapat dikalahkan bukan oleh teknologi, tetapi oleh kesadaran kognitif. Inilah pentingnya kedaulatan mental yang harus dimiliki Gen Z dan Alpha.
Bahkan, juga bisa menjadi bekal paling krusial untuk menjadi pribadi yang Optimistis, Tangguh, dan Skeptis (terhadap dampak dari perang informasi di era digital) saat nanti generasi muda memimpin (keluarga, kelompok masyarakat, maupun negara) masa depan.(*)
