Strategi Pertahanan Siber: Unfollow Lawan Doomscrolling

Ilustrasi tombol unfollow sebagai strategi pertahanan siber pribadi yang murah melawan doomscrolling
Pertahanan siber pribadi dimulai dari tombol unfollow, sebuah aksi asimetris paling murah melawan polusi informasi. Foto/Ilustrasi/AI

Kontenpositif.com — Di era serbuan informasi digital yang tak henti, tombol “unfollow” atau mute di media sosial bukan sekadar pilihan preferensi, melainkan strategi pertahanan siber pribadi yang proaktif, damai, dan hampir tanpa biaya. Sebuah studi dari American Psychological Association (APA) tahun 2020 menemukan bahwa kebiasaan “doomscrolling”, menggulir berita negatif tanpa henti dapat meningkatkan tingkat stres hingga 30% di kalangan pengguna.

Bagi Haryudi, mantan jurnalis pertahanan dengan 20 tahun pengalaman meliput berbagai isu, termasuk konflik geopolitik dan lulusan Magister Strategi Pertahanan, aksi ini membentuk Pertahanan Siber Pribadi, sebuah ‘doa digital’. Konsep ini mengadaptasi doktrin militer ke ranah individu, di mana membersihkan feed sosial media menjadi lapisan Strategi Pertahanan Siber pertama terhadap polusi informasi, rekayasa sosial, dan kelelahan mental.

“Unfollow adalah manuver asimetris paling murah,” kata Haryudi. “Ini seperti rotasi pasukan di medan perang: hemat biaya, tapi menyelamatkan nyawa mental.” Dalam analisis ini, unfollow beroperasi layaknya “pertahanan berlapis” (defense in depth), mengubah setiap pengguna menjadi prajurit di garda terdepan perang perhatian.

Baca Juga: Sumud Flotilla: Ketika Aktivis Sipil Dunia Ditahan Israel di Laut Lepas

Strategi Pertahanan Siber Paling Murah: Unfollow dan Logistik Mental

Dalam doktrin pertahanan siber, manusia sering menjadi lapisan terlemah. “Melatih pengguna untuk secara sadar mengelola arus informasinya sendiri adalah bentuk hardening atau pengerasan yang sangat efektif,” kata Donna Dodson, mantan Chief Cybersecurity Advisor di National Institute of Standards and Technology (NIST) AS, sebagaimana dikutip dari laman NIST.

Pernyataan ini selaras dengan laporan Verizon Data Breach Investigations Report 2023, yang menyebut bahwa unsur rekayasa sosial (social engineering) melibatkan 74% pelanggaran data, di mana korban secara tidak sadar memberikan akses setelah terpapar konten manipulatif, sering dari sumber yang diikuti dan dipercaya, seperti selebritas atau teman.

Konsep unfollow sebagai strategi pertahanan siber terinspirasi dari prinsip logistik militer, seperti yang diuraikan Basil Liddell Hart dalam Strategy: The Indirect Approach (Oxford University Press, 1967). Liddell Hart menekankan “rotasi pasukan” untuk menghindari kelelahan, jangan biarkan front line kehabisan suplai, kemudian rotasikan agar tetap efektif. Di dunia digital, feed media sosial adalah “front line” itu.

Setiap akun yang diikuti, mulai dari berita sensasional hingga opini toksik merupakan amunisi usang yang menggerogoti stamina mental. “Sebagai jurnalis, saya pernah terjebak dalam siklus berita 24/7 selama liputan konflik,” ungkap Haryudi. “Noise informasi itu seperti bombardir konstan, merusak kemampuan berpikir kritis.”

Ini juga mencerminkan prinsip “mengetahui medan tempur” dari Sun Tzu dalam The Art of War. Dengan unfollow, pengguna memutus paparan pada sumber negatif, toxic, atau manipulatif, secara signifikan mengurangi permukaan serangan (attack surface) yang dieksploitasi aktor jahat.

Studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health (2021, diterbitkan di JAMA Pediatrics) mendukung bahwa overconsumption konten negatif menyebabkan “kelelahan tempur digital,” di mana pengguna kehilangan kemampuan membedakan fakta dari fiksi.

Unfollow menciptakan “gencatan senjata mental” di antaranya dengan jeda regenerasi yang memungkinkan otak fokus pada informasi berkualitas. Dr. Sherry Turkle, profesor MIT dan penulis Reclaiming Conversation (Penguin, 2015), menambahkan bahwa “Mengurangi paparan digital toksik adalah bentuk self-care yang strategis, mirip dengan istirahat taktis di medan perang.”

Laporan NATO Cyber Defence Review (2022) menyoroti bagaimana perang informasi modern menargetkan level individu, sehingga unfollow adalah respons pribadi yang murah dan tak terdeteksi.

Ilustrasi kepala manusia dikelilingi ikon notifikasi, berita, dan simbol digital yang menggambarkan kabut perang informasi.
Kabut Perang Digital: Pikiran manusia dikepung notifikasi, berita, dan algoritma yang saling bertabrakan. Foto/Ilustrasi/AI

Resiliensi Mental: Biaya Nol dan Manfaat Tinggi untuk Kesehatan Kognitif

Dampak unfollow bukan hanya teknis, tapi juga psikologis dan ekonomi. Biayanya nol rupiah, tidak seperti software antivirus atau kursus literasi digital, namun Return on Investment (ROI) mentalnya tinggi. Sebuah studi di Journal of Social and Clinical Psychology (2018) menemukan bahwa pembatasan penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari mengurangi depresi dan kesepian secara signifikan selama tiga minggu.

“Ketika kita menyaring informasi, kita membangun ‘imunitas kognitif’, seperti vaksinasi kecil terhadap infeksi mental,” jelas Dr. Tracy Alloway, Associate Professor of Psychology di University of North Florida, yang meneliti memori kerja dan media sosial.

Ancaman Epistemologis: Mengapa Feed Kacau Merusak Kognisi

Ancaman epistemologisnya nyata, feed kacau menciptakan “Celah Keamanan Siber,” adaptasi dari Bruce Schneier dalam Data and Goliath (W.W. Norton, 2015). Deepfake dan misinformasi mengeksploitasi celah ini, laporan MIT Technology Review (2023) mencatat 96% deepfake untuk manipulasi politik.

Oversharing dan overconsumption memperburuknya, seperti pasukan kehilangan komando. Pew Research Center (2022) menemukan 64% pengguna merasa lebih tenang setelah membersihkan feed. Dalam perspektif pertahanan nasional, ketahanan mental masyarakat adalah aset strategis, di mana populasi kognitif sehat sulit dimanipulasi oleh kampanye asing.

Unfollow juga senjata di “ekonomi perhatian,” di mana perhatian adalah komoditas. “Setiap kali Anda tidak memberikan engagement, Anda menarik sumber daya dari mesin konten negatif—bentuk boikot personal yang damai,” ujar James Williams, penulis Stand Out of Our Light: Freedom and Resistance in the Attention Economy, dalam esai untuk The Guardian.

Saat dilakukan massal, ini menggerus profitabilitas model bisnis berbasis amarah dan polarisasi. World Economic Forum (Global Risks Report 2023) memperingatkan misinformasi sebagai risiko terbesar; unfollow menutup celah pribadi, menghemat biaya kesehatan mental global miliaran dolar, menurut Harvard.

Strategi Pertahanan Siber: Menuju Warga Negara Digital yang Berdaulat

Sebagai praktisi pertahanan, Haryudi memetakan lima lapisan yang dibangun unfollow sebagai resiliensi digital, dengan tips langsung:

  • Pertahanan Psikologis: Bangun benteng terhadap kecemasan dan manipulasi emosional. Audit 50 akun pertama di feed; unfollow noise seperti akun sensasionalis.
  • Pertahanan Kognitif: Kosongkan bandwidth mental untuk pemecahan masalah. Gunakan Mute untuk opsi sementara—sembunyikan konten tanpa memutus hubungan, seperti di Twitter atau Instagram.
  • Pertahanan Sosial: Kurasi lingkungan digital positif yang merupakan sebagai bagian dari strategi pertahanan siber. Jadwalkan pembersihan mingguan 30 menit; prioritaskan sumber terverifikasi seperti jurnalis resmi.
  • Pertahanan Informasi: Putus rantai mis/disinformasi. Catat manfaat dalam jurnal untuk motivasi; gunakan app seperti Freedom (gratis) untuk blokir sementara.
  • Pertahanan Waktu: Alokasikan waktu ke aktivitas membangun ketahanan atau resiliensi digital. Ini menciptakan echo chamber positif, bukan merusak.

“Langkah ini membangun benteng pribadi,” saran Haryudi. Untuk doktrin lebih dalam melawan deepfake, baca analisis eksklusif kami di sini.

Dari Konsumen Pasif ke Warga Negara Digital yang Berdaulat

Pada akhirnya, unfollow adalah peralihan dari konsumen pasif menjadi prajurit digital yang menjaga kedaulatan siber pribadi. Ini demokratisasi keamanan siber, dari institusi ke individu.

“Keamanan siber dimulai dari kesadaran; langkah kecil seperti mengelola siapa yang diikuti adalah fondasi budaya tangguh,” pungkas Clara Tsao, salah satu pendiri Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) AS, dalam forum diskusi.

Di medan perang informasi modern, unfollow bukan pelarian akan tetapi ia adalah strategi elegan, doa untuk ketenangan, dan pertahanan paling murah. Satu klik membentuk ketahanan nasional dalam satu waktu.(*)

Bagikan:

Apakah artikel ini memberi Anda perspektif baru?

Di KontenPositif, kami menggunakan perhatian Anda untuk hal baik, menyajikan berita solutif yang menginformasi sekaligus menginspirasi. Jika Anda percaya pada misi kami, dukung agar kami bisa menjangkau lebih banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait